Industri Game Di Indonesia Masih Kalah Dibandingkan Vietnam

Daftar Isi & Table Content

Industri Game Di Indonesia Masih Kalah Dibandingkan Vietnam, Kalian tau gak, sebenernya industri game itu lebih gede daripada perfilman dan musik digabungin? Selama ini kita kira industri film, industri musik itu udah gede banget. Tapi ternyata game itu lebih gede daripada mereka berdua digabungin. Dan kita ga pernah expet. Kirain orang-orang yang main sehari-hari, bocah-bocah mobile legend, CS, valorant, DOTA— Kok bisa ya ada industri segede ini tapi orang gak ngeh? Karena taunya mungkin cuma main doang. Yang lebih hebat lagi, Indonesia tuh negara yang grow-nya paling cepat di Asia Tenggara. Nomor satu. Industri game yang mencapai $2M. Atau sekitar 27 triliun rupiah.

Industri Game Di Indonesia Masih Kalah Dibandingkan Vietnam
Game Developer Indonesia Masih Sedikit

Tapi masalahnya industri segede ini, ironinya, di Indonesia tuh salah satu yang paling kecil. Kecil dimana nih? Soalnya pemainnya banyak banget, sales-nya lumayan gede. Simpelnya gini, kita mulai dari problem. Di Indonesia, total market share itu—yang $2M— cuma 0,4% itu game lokal. Mayoritas game yang setiap hari orang mainin di Indonesia itu game-game dari developer luar. Tapi kenapa? Apa karena Indonesia memang gak bisa bikin game bagus? Apakah talent talent-nya jelek? Apakah game studio-nya gak becus? Menurut saya masalahnya lebih dalam daripada itu. Makanya sebagai pelaku di industri mereka tuh selalu pake kata ini: undercapitalized. Sesimpel jumlah uang yang ditaruh untuk produksi lokal— itu tuh sangat amat amat kecil. Analogina simpel. Gini aja, kita tuh ada ekspor ada impor. Bayangin kalo negara impor banyak banget tapi gak ekspor, Pasti bakal gak balance Yang bikin mirisnya lagi kita tuh impor banyak banget, tapi kita gak pernah ekspor.

Satu, kenapa negara kurang mendukung secara besar untuk pendanaan dan sumber daya manusia yang dinaikin levelnya? Tapi sebelum kita lebih detail, saya selalu suka quote dimana ada problem, akan ada opportunity. Industri yang undercapitalized, industri yang kesannya kayak di tanah, itu justru upside atau potensi untuk kita grow jauh lebih besar dari industri yang udah maju.

Industri Game Vietnam Menjadi powerhouse di Southeast Asia

Industri game Vietnam itu seperempat dari Indonesia. Hampir seperempat, yaitu $530 juta. Demografinya mirip. Mayoritas milenial, gen z bisa spend sampe 4 jam sehari untuk mai game. Tapi kenapa mereka bisa jadi gaming powerhouse di Southeast Asia? Dimana ada 5 top game publisher yang masuk top 10 publisher di 2022.

  1. Yang pertama, infrastruktur Vietnam tuh jauh lebih memadai. Misalnya dari internet speed, teknologi. Internet di Indonesia tuh spertiga speed-nya dari Vietnam.
  2. Dan yang kedua adalah government policy. Dimana mereka lebih mendukung game-game lokal untuk dimainin sama market-nya sendiri dibanding game luar masuk ke dalam. Dan itu gapapa. Mungkin mereka liatnya nge-sacrifice secara market gedenya, tapi akhirnya industri mereka bisa thriving untuk produksi.

Dan akhirnya industri game bisa ngehasilin devisa negara yang lumayan gede. Kalo kita ngomong market US, Eropa, Jepang, mereka emang udah maju dan udah mulai balance. Cuma kalo negara-negara kecil—misalnya di Southeast Asia.

Soalnya selama ini kita ngeliat gaming cuma buat dimainin, ga bisa make money. What about the industry? What about macro? What about negara Indonesia sendiri?

3 hal yang bisa majuin industri game di Indonesia.
  1. Satu, yaitu government support. Kita harus munculin karya-karya baru, kita harus munculin pencapaian— kayak kemarin Indonesia menang gold medal untuk PUBG mobile. Dan ini beberapa award lainnya. Government harus bisa kita senggol untuk mendukung lokalisasi, atau local talents, local developer untuk bisa membuat karyanya sendiri. Atau yang orang suka bilang, #KaryaAnakBangsa. Kalau pun mau ada game internasional masuk ke Indo, mereka harus melalui local partner. Atau harus melalui proses dimana gak mengkanibal local industry kita.
  2. Yang kedua itu pemberdayaan SDM. Gimana caranya local industry kita bisa grow developer, designer-nya ke level selanjutnya kalo mereka gak dikasih kesempatan untuk bikin karya-karya baru atau terekspos sama karya-karya global?. Datengin game designer global, art designer global untuk naikin talent-talent kita di Indonesia.
  3. Yang ketiga itu sesimpel digital digital infrastructure-nya itu harus kerjasama dengan negaranya sendiri. Mulai dari internet speed, telekomunikasi, teknologi, gadget, dan sisa-sisanya. Nah karena infrastruktur itu penting.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Telegram
WhatsApp
Categories

Free Tools To Use

Instant Article

Create Articles (as quick as lightning) In less than 1 minute 100% Unique and Fresh, Guaranteed to pass Plagiarism / Copyscape Safe for Adsense Blogs or any article content

Rewrite Article

With AGP Make 3,000 Words Pillar Articles + Only 5 Minutes. Rewrite Long Articles Immediately Fresh and Unique Pass Copyscape Safe for Adsense Blog